Sabtu, 10 September 2016

MISI RAHASIA BERSAMA TUHAN



Langit di luar sudah gelap,manusia sudah banyak terlelap,hanya suara jarum jam yang berdetak sebagai teman-teman kegelisahan dan kegundahan yang saat ini kurasakan. Kau tahu,semenjak itu ada berapa banyak malam yang kuhabiskan hanya untuk termenung sesaat,lalu tersenyum sendiri,bahkan pernah menangis dan marah. Kau tahu,semenjak itu aku seperti kehilangan logika dan akal sehatku, otakku bekerja keras untuk banyak berfikir tentang dirimu. Kau tahu semenjak itu aku sadar,aku telah dipermainkan perasaan yang bagiku “aneh”. Ya Aneh, karena aku pun tak pernah memikirkan untuk memiliki perasaan itu barang sedetikpun. Tapi semenjak itu,kau membuat aku harus membagi imajinasi dan memori di otakku ini dengan ruang tentang dirimu.Kau tahu,semenjak itulah aku sadar aku menyukaimu,bahkan mungkin mengagumimu. Ya semenjak itu, semenjak kau tiba-tiba datang dalam kesibukanku, semenjak kau ada saat aku kecewa, semenjak kau hadir saat aku butuh inspirasi.
Walaupun aku menyukaimu, menempatkan dirimu di sekat hati, tapi aku masih memiliki rasa malu. Malu untuk mengatakannya padamu, malu untuk mengakuinya padamu,malu untuk mengakuinya padamu. Terlebih lagi, aku malu pada Tuhanku. Tuhan yang telah menyayangiku,menjadikanku untuk tetap setia menempatkanmu sementara waktu dalam sekat-sekat hati yang mudah rapuh ini. Tuhan tak ingin aku mengabaikanNya ketika nanti aku terlalu sibuk denganmu.
Sudah lama ku memendam semuanya, kau yang ku tahu juga sama dengan diriku, mahasiswa yang sebagian waktunya dihabiskan di ruang sekre dan mengurus program kerja organisasi. Aku tahu kau mungkin tak menyadari keberadaanku, kita tak pernah berkomunikasi langsung. Karena bagiku, hanya ada dua alasan untuk aku tidak ingin berbiara dengan seseorang, kalau bukan karena aku membencinya, atau karena aku menyukainya. Dan alasan yang kedua adalah jawaban bagiku untukmu yang mungkin sempat terlintas dalam fikiran, mengapa aku tak pernah berkomunikasi langsung denganmu.
Hingga pada suatu ketika, aku memberanikan diri untuk berbicara denganmu, ya walaupun lewat handphone. Alibi program kerja organisasi menjadi dalihku atas pembenaran kesalahan yang telah ku perbuat. Ya bagiku adalah sebuah kesalahan ketika aku harus menelfon seorang lelaki yang aku sukai. Karena aku takut jika nanti di ujung telfon kau mendengar suaraku yang bergemetar dan terdengar canggung, dan akhirnya kau perlahan-lahan mulai menyadari kalau aku menyukaimu. Tapi aku berharap perasaanmu tidak sesensitif itu, semoga saja kau belum tahu apa yang kurasakan hingga detik ini saat aku merangkaikan kalimat-kalimat ini. Mungkin benar kau tidak bsa menebak dan menyadarinya ketika aku menelfonmu, tapi bisa saja kau menyadarinya saat kita saling bertemu, atau berpasasan di koridor kampus atau dalam kegiatan organisasi. Itu lebih buruk lagi, ku harap jangan, semoga Tuhan masih menutup kejelianmu akan perasaanku terhadapmu. Ya aku tak ingin kau tahu bahwa ada seorang gadis sederhana dan senaif ini yang telah berani menempatkanmu dalam ruang hatinya. Aku hanya ingin Tuhan dan ujung malamku yang panjang ini saja yang tahu. Semua ku tumpahkan dalam doa dan sujud di hamparan sajadah di sepertiga malamku. Saat itu aku menangis tersedu-sedu,meraskan betapa sakitnya harus mencintaimu dalam diam,memendam semua yang ku rasakan tentang dirimu,senang,sedih,apapun itu semuanya bergejolak di hati. Tapi ketika tangis ku usai, Tuhan seperti menghiburku. Tuhan seperti ingin mengatakan langsung padaku bahwa dengan begini Tuhan ingin aku lebih bijaksana untuk menicntaimu. Tuhan ingin menjaga rasa cintaku ini masih menjadi cinta yang hebat yang belum pernah kau tahu. Tuhan ingin membuat misi kerjasama denganku untuk merahasiakannya denganmu. Dia ingin agar aku bisa selalu dekat denganNya lewat rasa cinta yang Dia berikan kepadaku terhadapmu.
Untukmu yang telah menempati sekat di ruang hati ini, tolong jika kau kini telah mengetahui bahwa aku menyukaimu anggaplah itu tidak pernah terjadi, tolong berpura-puralah untuk tidak menyadari, bersikaplah seperti biasa,jangan buat aku sulit dalam keadaan yang tidak aku inginkan. Tunggulah sampai misiku bersama Tuhan ini selesai. Aku ingin tahu sampai kapan Tuhan ingin aku menemptkanmu daalam sekat ruang hati ini, apakah akan lama atau tidak, biarlah. Aku hanya ingin selalu dekat denganNya entah nanti perasaanku terhadapmu akan berubah atau tidak. Terakhir sebait puisi ku kirimkan untukmu lewat mimpi di ujung malam yang panjang ini, semoga suatu saat Tuhan memberikan jawaban terbaik atas do’a ku selama ini.

            Pada akhirnya aku mengalah
            Aku mengalah pada kerasnya hati dan perasaan
            Aku terlalu dalam menyimpan pahit perasaan
            Aku hanya ingin berdamai dengan perasaan
Aku hanya tak ingin kau menjadi benalu dalam rindu yang tak bisa kujelaskan
            Hujan… bawa hilang pahit yang menyapa, bawa pergi sakit yang terasa
            Basahi keringnya hati karena terlalu jauh menginginkannya






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar