Selasa, 10 Mei 2016

Cerpen Larasku Kartiniku

Assalamu'alaikum
Memperingati hari kelahiran RA Kartini 21 April Kemarin, temen-temen di HMJ Biologi mengadakan berbagai perlombaan,salah satunya lomba menulis cerpen. Salah seorang teman yang menjadi panitia perlombaan menyarankan Vinni untuk ikut, alhasil jadilah sebuah cerpen yang dibuat dalam waktu kurang dari sehari. Cerpennya berjudul Larasku Kartiniku. Mungkin mmasih banyak kekurangan dalam penulisannya,tapi Vinni masih belajar jadi butuh saran dan kritikan dari teman-teman sekalian, terimakasih,Arigatou Gozaimasu :)


Larasku Kartiniku

Biarkan,biarkan sejuta asa itu menghilang
Biarkan bayang-bayang buruk kehidupan lelah meninggalkan
Kamu harus tetap tegar
Kamu harus tetap kukuh
Berdiri di sini mengenali dan menggali mimpimu yang kau pendam sendiri
Laras,kamu bisa,pasti bisa!!!

Namanya Laras. Gadis manis bertubuh mungil itu tergopoh-gopoh berlari menuju terminal. Bajunya yang lusuh, ditambah jibab lebar yang mulai luntur warnanya berkibar-kibar diterpa angin di antara ratusan penumpang di sana. Nafasnya tak beraturan. Keringat mengucur deras dari wajahnya. Ada tas dari kain goni besar yang ia panggul dari rumahnya. Untuk apa ia ke mari? Ia ingin mengejar mimpinya.
“Maaf pak tiket untuk keberangkatan ke kota masih ada kan?”tanyanya pada petugas di loket antrean.
Melihat penampilan Laras yang kumuh seperti itu,petugas tampak mengernyitkan dahi dan merasa terganggu akan keberadaanya.
“enng.. ada. Mau pesan yang mana,eksekutif atau ekonomi?”nadanya ketus.
“ekonomi saja pak,,”
“ok tunggu sebentar!”
Di dalam perjalanan, Laras tak henti-hentinya komat-kamit berdoa kepada sang pencipta agar jalannya kali ini dimudahkan,agar Tuhan mengabulkan doa-doa yang ia panjatkan setiap sepertiga malam panjangnya.
Sesampainya di kota, laras tingal bersama pamannya. Di sana paman Laras juga hidup dengan seadanya. Ia tidak bisa memberikan fasilitas yang baik untuk keponakannya. Ukuran kamar 2 x 2 meter akan menjadi saksi bisu perjuangan Laras untuk belajar di kota. Ya,Laras akan kuliah.
Kuliah? Satu kata yang dulunya amat menjadi momok menakutkan bagi dirinya. Seorang gadis desa dengan belenggu kemiskinan dan kemelaratan akrab dengannya,yang tiga hari dalam seminggu harus berpuasa karena uang untuk makan seharipun tidak ada,dan yatim piatu pula. Hanya Nenek Darti, wanita tua renta yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Ia pun tak kuasa menahan tangis saat berpisah dengan nek Darti. Yah mau bagaimana lagi, ia harus ke kota,ia harus mengubah nasibnya,ia harus mewujudkan mimpi-mimpinya. Dengan uang hasil tabungan dan berjualan kerupuk serta gorengan di kampung ia nekat ke kota.

Hari ini hari pertama ia kuliah. Rasanya ia tak percaya. Di depan matanya sebuah gedung berdiri di sana. Bangunan kokoh saksi bisu perjuangan manusia-manusia pencari ilmu.
“Laras, ini awal perjuanganmu, kau akan meraih mimpimu. Sebentar lagi laras,selangkah lagi….”
Masa-masa perkuliahan adalah masa yang sulit baginya. Bagaimana ia harus sering menahan lapar karena uang jajan yang ia bawa sering kurang,bahkan habis dan tidak cukup untuk membeli keperluan lain. Kue yang ia titip di koperasi mahasiswalah satu-satunya cadangan uang yang dapat ia gunakan untuk mengakali kekurangan uang jajan di kampus.

Ia harus memejamkan matanya lama ketika malam larut.
Badannya yang kurus itu serasa semakin kurus saja tatkala begadang mengerjakan tugas kuliah di malam hari, belajar di pagi dan siang hari,belum lagi terkadang ia berjualan di sore hari membantu pamannya.
“Kami panggilkan ke depan untuk naik ke atas panggung saudari Larasati sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi dan meraih predikat cumlaude pada periode wisuda kali ini”ucap Rektor sambil tersenyum lebar diiring riuh dan tepuk tangan penonton.
“Apa ? ini hanya mimpi kan?” Laras tak percaya
“sekali lagi Laras dimohonkan untuk nak ke atas panggung”.

Ya, dia kini telah lulus dengan prestasi cumlaude. Itu bukan mimpi. Tapi mimp yang telah terwujud. Si anak miskin yang dulunya tergopoh-gopoh berlari-lari di terminal untuk ke kota dengan modal nekat sambil berat hati meninggalkan neneknya yang sangat ia cintai di kampung. Si gadis mungil yang dulunya sering menahan lapar ketika tahu bahwa uang jajanya acpakali kurang. Kini ia sudah di wisuda dan kini ia sap menghadapi tantangan kehidupan berikutnya.

Di pojok gubuk tua….
“Bu Laras, tolong jelaskan tentang rumus integral ini dong, kami belum mengerti bu…”
“iya,, biar ibu jelaskan ya…”
Di sana sudah ada anak-anak dengan pakaian lusuh bahkan ada tambalan benang dn jahitan di sana-sini. Mereka tampak takzim memperhatikan jari-jemri Laras menuliskan rumus-rumus sambil menjelaskan di papan kapur.
Ya, Laras sekarang ada di sini. Di pojok gubuk tua.Mengabdi mengajar pada anak-anak desa yang belum beruntung mengenal kata sekolah. Selepas wisuda ia tidak melanjutkan studi ke S2 ataupun menerima tawaran bekerja di perusahaan ternama. Ia  berani meninggalkan semua materi di depan matanya, tatkala melihat ada anak kecil mungil kurus persis seperti dirinya ketika kecil dulu belajar mengeja dengan buku dan alat tuls seadanya.
“Laras, kebahagiaan itu bukanlah ketika kamu memperoleh apa yang kamu inginkan, tapi bahagia itu ketika kamu bisa membagi sedikit kebahagiaan itu untuk orang lain di sekitarmu, bahagia itu ketika kebermanfaatanmu dirasakan oleh mereka yang butuh “bahagia” itu” gumam Laras dalam hati.
Ketika ia membaca hasil tugas murid-muridnya,,Laras berlinang air mata tatkala membaca ada untaian puisi untuk nya

Kartini
Siapa kartini
Kata ibu guru Kartini adalah pahlawan bangsa
Kata ibu guru Kartini adalah wanita yang baik hati
Kata ibu guru Kartini adalah pejuang hak-hak wanita
Siapa Kartini
Aku tidak tahu
Aku tidak kenal
Bagiku Kartini ku itu Bu guru
Ibu Laras Kartiniku
Ibu guru yang menjadi pahlawanku
Ibu guru wanta yang baik hati
Ibu guru berjuang untuk kami bisa membaca dan menulis
Kartini itu Ibu Guru Kami
Ibu Laras.

“Laras, kaukah Kartini itu ?” ucapnya terharu.


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar