Langit di luar sudah gelap,manusia sudah banyak terlelap,hanya suara jarum jam yang berdetak sebagai teman-teman kegelisahan dan kegundahan yang saat ini kurasakan. Kau tahu,semenjak itu ada berapa banyak malam yang kuhabiskan hanya untuk termenung sesaat,lalu tersenyum sendiri,bahkan pernah menangis dan marah. Kau tahu,semenjak itu aku seperti kehilangan logika dan akal sehatku, otakku bekerja keras untuk banyak berfikir tentang dirimu. Kau tahu semenjak itu aku sadar,aku telah dipermainkan perasaan yang bagiku “aneh”. Ya Aneh, karena aku pun tak pernah memikirkan untuk memiliki perasaan itu barang sedetikpun. Tapi semenjak itu,kau membuat aku harus membagi imajinasi dan memori di otakku ini dengan ruang tentang dirimu.Kau tahu,semenjak itulah aku sadar aku menyukaimu,bahkan mungkin mengagumimu. Ya semenjak itu, semenjak kau tiba-tiba datang dalam kesibukanku, semenjak kau ada saat aku kecewa, semenjak kau hadir saat aku butuh inspirasi.
Walaupun aku menyukaimu, menempatkan dirimu di sekat
hati, tapi aku masih memiliki rasa malu. Malu untuk mengatakannya padamu, malu
untuk mengakuinya padamu,malu untuk mengakuinya padamu. Terlebih lagi, aku malu
pada Tuhanku. Tuhan yang telah menyayangiku,menjadikanku untuk tetap setia
menempatkanmu sementara waktu dalam sekat-sekat hati yang mudah rapuh ini.
Tuhan tak ingin aku mengabaikanNya ketika nanti aku terlalu sibuk denganmu.
Sudah lama ku memendam semuanya, kau yang ku tahu
juga sama dengan diriku, mahasiswa yang sebagian waktunya dihabiskan di ruang
sekre dan mengurus program kerja organisasi. Aku tahu kau mungkin tak menyadari
keberadaanku, kita tak pernah berkomunikasi langsung. Karena bagiku, hanya ada
dua alasan untuk aku tidak ingin berbiara dengan seseorang, kalau bukan karena
aku membencinya, atau karena aku menyukainya. Dan alasan yang kedua adalah
jawaban bagiku untukmu yang mungkin sempat terlintas dalam fikiran, mengapa aku
tak pernah berkomunikasi langsung denganmu.
Hingga pada suatu ketika, aku memberanikan diri
untuk berbicara denganmu, ya walaupun lewat handphone.
Alibi program kerja organisasi menjadi dalihku atas pembenaran kesalahan yang
telah ku perbuat. Ya bagiku adalah sebuah kesalahan ketika aku harus menelfon
seorang lelaki yang aku sukai. Karena aku takut jika nanti di ujung telfon kau
mendengar suaraku yang bergemetar dan terdengar canggung, dan akhirnya kau
perlahan-lahan mulai menyadari kalau aku menyukaimu. Tapi aku berharap perasaanmu
tidak sesensitif itu, semoga saja kau belum tahu apa yang kurasakan hingga detik
ini saat aku merangkaikan kalimat-kalimat ini. Mungkin benar kau tidak bsa
menebak dan menyadarinya ketika aku menelfonmu, tapi bisa saja kau menyadarinya
saat kita saling bertemu, atau berpasasan di koridor kampus atau dalam kegiatan
organisasi. Itu lebih buruk lagi, ku harap jangan, semoga Tuhan masih menutup
kejelianmu akan perasaanku terhadapmu. Ya aku tak ingin kau tahu bahwa ada
seorang gadis sederhana dan senaif ini yang telah berani menempatkanmu dalam
ruang hatinya. Aku hanya ingin Tuhan dan ujung malamku yang panjang ini saja
yang tahu. Semua ku tumpahkan dalam doa dan sujud di hamparan sajadah di
sepertiga malamku. Saat itu aku menangis tersedu-sedu,meraskan betapa sakitnya
harus mencintaimu dalam diam,memendam semua yang ku rasakan tentang dirimu,senang,sedih,apapun
itu semuanya bergejolak di hati. Tapi ketika tangis ku usai, Tuhan seperti
menghiburku. Tuhan seperti ingin mengatakan langsung padaku bahwa dengan begini
Tuhan ingin aku lebih bijaksana untuk menicntaimu. Tuhan ingin menjaga rasa cintaku
ini masih menjadi cinta yang hebat yang belum pernah kau tahu. Tuhan ingin
membuat misi kerjasama denganku untuk merahasiakannya denganmu. Dia ingin agar
aku bisa selalu dekat denganNya lewat rasa cinta yang Dia berikan kepadaku
terhadapmu.
Untukmu yang telah menempati sekat di ruang hati ini,
tolong jika kau kini telah mengetahui bahwa aku menyukaimu anggaplah itu tidak
pernah terjadi, tolong berpura-puralah untuk tidak menyadari, bersikaplah
seperti biasa,jangan buat aku sulit dalam keadaan yang tidak aku inginkan.
Tunggulah sampai misiku bersama Tuhan ini selesai. Aku ingin tahu sampai kapan
Tuhan ingin aku menemptkanmu daalam sekat ruang hati ini, apakah akan lama atau
tidak, biarlah. Aku hanya ingin selalu dekat denganNya entah nanti perasaanku terhadapmu
akan berubah atau tidak. Terakhir sebait puisi ku kirimkan untukmu lewat mimpi
di ujung malam yang panjang ini, semoga suatu saat Tuhan memberikan jawaban
terbaik atas do’a ku selama ini.
Pada akhirnya aku mengalah
Aku mengalah pada kerasnya hati dan
perasaan
Aku terlalu dalam menyimpan pahit
perasaan
Aku hanya ingin berdamai dengan
perasaan
Aku
hanya tak ingin kau menjadi benalu dalam rindu yang tak bisa kujelaskan
Hujan… bawa hilang pahit yang
menyapa, bawa pergi sakit yang terasa
Basahi keringnya hati karena terlalu
jauh menginginkannya
